Pengaruh Pemanfaatan Energi Surya Sebagai Energi Alternatif terhadap Kebutuhan Masyarakat Indonesia akan Energi Fosil Ditinjau dari Etika Profesi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1              LATAR BELAKANG
Dunia atau yang dikenal oleh manusia dengan sebutan Bumi, adalah suatu hunian yang menakjubkan dengan berbagai macam keragaman hayati yang ditawarkan. Keberagaman hayati yang memikat tersebut tidak terbentuk dalam sekejap mata. Ada proses alam yang saling berinteraksi dan saling berbagi sehingga dapat menciptakan dunia yang menakjubkan. Namun seiring dengan perkembangan zaman serta semakin tingginya tuntutan akan pemakaian energi dunia, manusia yang memberdayakan energi sedemikian rupa telah menyebabkan perubahan yang signifikan terhadap wajah Bumi tercinta ini. Pembangunan sektor industri yang bertujuan untuk memperingan pekerjaan manusia dengan harapan pemerolehan pendapatan yang lebih besar serta penekanan biaya dapat diibaratkan pisau bermata dua.  Tujuan yang ingin dicapai dalam pemanfaatan teknologi industri tidak lain untuk memperingan pekerjaan manusia, namun di sisi lain sumber daya alam yang terkandung dalam bumi seperti halnya bahan bakar fosil (minyak bumi, gas alam, batu bara) yang menjadi energi penggerak setiap sektor industri semakin menyusut dan terancam habis.
Tak hanya itu, krisis global  yang dikenal dengan istilah Global Warming yang merupakan ancaman besar bagi kehidupan di bumi. Oleh karena itu, berbagai macam energi alternatif telah dikembangkan sebagai bentuk energi yang tak terbatas (hampir tak akan pernah habis dipakai), antara lain tenaga angin, tenaga ombak, hingga tenaga surya; menggantikan ketergantungan terhadap energi fosil.
Indonesia sebagai negara beriklim tropis yang mendapat intensitas sinar matahari tinggi memiliki potensi besar dalam pemberdayaan energi surya (www.bppt.go.id). Akan tetapi dalam pengadaan dan pengembangan energi surya di Indonesia, banyak kendala yang timbul baik dari sisi masyarakat dan dari sisi lingkungan. Oleh karena itu, makalah yang berjudul "Pengaruh Pemanfaatan Energi Surya Sebagai Energi Alternatif terhadap Kebutuhan Masyarakat Indonesia akan Energi Fosil Ditinjau dari Etika Profesi" ini disusun dengan harapan dapat mengetahui apakah eksploitasi migas di Indonesia serta penerapan energi surya sebagai energi alternatif pengganti energi fosil sesuai dengan etika profesi yang dilihat baik dari perilaku kalangan industri, pemerintah maupun masyarakat di Indonesia.      

                 
1.2              RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang ingin dibahas dari judul yang diberikan yaitu :
Apakah eksploitasi migas di Indonesia serta penerapan energi surya sebagai energi alternatif pengganti energi fosil sesuai dengan etika profesi yang dilihat baik dari perilaku kalangan industri, pemerintah maupun masyarakat di Indonesia.

1.3              BATASAN MASALAH
Perilaku pelaku industri eksplorasi dan eksploitasi serta pemerintah Indonesia terhadap kegiatan eksploitasi energi fosil yaitu migas; juga respons masyarakat terhadap penggunaan energi alternatif guna memangkas ketergantungan masyarakat terhadap energi fosil yang terbatas jumlahnya.

1.4              TUJUAN
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari pembahasan rumusan masalah yang dikaji yaitu , meninjau apakah eksploitasi migas di Indonesia serta penerapan energi surya sebagai energi alternatif pengganti energi fosil kesesuaian dengan etika profesi yang dilihat baik dari perilaku kalangan industri, pemerintah maupun masyarakat di Indonesia.




BAB II
LANDASAN TEORI

Sumber energi merupakan sesuatu yang memiliki kemampuan untuk menyimpan atau menghasilkan energi. Ada banyak macam jenis energi serta sumber energi yang ada di dunia ini. Masing-masing dari sumber tersebut memiliki kapasitas yang berbeda-beda. Sementara, jenis energi yang saat ini banyak dimanfaatkan oleh manusia adalah energi yang berasal dari fosil yang biasa disebut sebagai minyak bumi. Minyak bumi diolah menjadi banyak jeinis bahan bakar minyak,  mulai dari aftur, bensin, solar, hingga minyak tanah.
Bahan bakar fosil atau bahan bakar mineral adalah sumber daya alam yang mengandung hidrokarbon seperti batu bara, petroleum, dan gas alam. Penggunaan bahan bakar fosil ini tellah menggerakan pengembangan industri dan menggantikan kincir angin, tenaga air, dan juga pembakaran kayu.
            Ketika menghasilkan listrik, energi dari pembakaran bahan bakar fosil seringkali digunakan untuk menggerakan turbin. Generator seringkali menggunakan uap yang dihasilkan dari pembakaran untuk memutar turbin, tetapi di pembangkit listrik baru gas dari pembakaran digunakan untuk memutar turbin gas secara langsung.
Pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia merupakan sumber utama dari karbon dioksida yan merupakan salah satu gas rumah kaca yang dipercayai menyebabkan pemanasan global. Sejumlah kecil bahan bakar karbon hidrokarbon adalah bahan bakar bio yang diperoleh dari karbon dioksida di atmosfer dan oleh karena itu tidak menambah karbon dioksida di udara. Jenis energi yang berasal dari fosil tersebut merupakan energi yang tidak bisa untuk diperbaharui. Karena hal tersebut, maka dimungkinkan akan terjadi kelangkaan dari energi tersebut di masa depan atau bahkan mungkin juga energi yan menjadi penopang utama bagi kehidupan sehari-hari bagi manusia akan habis. Saat ini, hampir setiap mesin yang ada dalam kehidupan manusia menggunakan energi yang bersumber dari minyak bumi. Jika manusia tidak segera menggunakan energi alternatif sebagai pengganti, saat cadangan minyak bumi yang ada telah habis, maka manusia akan menjadi kesulitan karena terlalu bergantung pada sumber energi tersebut.
            Meskipun saat ini penggunaan energi alternatif sudah mulai dikembangkan namun sepertinya manusia masih sulit atau enggan untuk menjadikan energi alternatif tersebut sebagai sumber energi utama bagi kehidupannya. Entah mengapa energi alternatif masih kurang diminati oleh banyak orang saat ini, padahal banyak jenis energi alternatif yang diketahui lebih ramah terhadap lingkungan dari pada menggunakan energi yang bersifat konvensional seperti yang dipakai saat ini. Ada banyak macam sumber energi alternatif yang saat ini telah dikembangkan oleh manusia. Tujuan dari pengembangan energi tersebut adalah untuk menggantikan peranan dari penggunaan energi yang sering dipakai oleh manusia pada saat ini. Dengan adanya energi alternatif, diharapkan manusia akan beralih dan tidak lagi bergantung pada satu jenis sumber energi saja.
            Selain itu, dengan adanya pengembangan energi alternatif diharapkan juga kerusakan lingkungan dapat semakin berkurang, karena energi alternatif yang ada cenderun lebih aman. Jika energi alternatif yang ada cenderung lebih aman. Jika energi alternatif yang ada benar-benar bisa berkembang dan menjadi penopang dalam setiap kegiatan manusia, kita tidak perlu lagi terlalu cemas akan terjadi kelangkaan energi dalam kehidupan kita.
            Salah satu sumber energi alternatif yang telah dikembangkan adalah panel surya. Panel surya adalah energi yang didapat dengan mengubah energi panas surya  melalui peralatan tertentu menjadi sumber daya dalam bentuk lain. Panel surya atau juga sering disebut fotovoltaik merupakan suatu alat yang mampu mengkonversi langsung cahaya matahari menjadi listrik. Panel surya bisa disebut sebagai pemeran utama untuk memaksimalkan potensi sangat besar energi cahaya matahari yang sampai ke bumi, walaupun selain dipergunakan untuk menghasilkan listrik, energi dari matahari juga bisa dimaksimalkan energi panasnya melalui sistem solar thermal.
Sejarah panel surya dapat dilihat jauh ke belakang ketika pada tahun 1839 Edmund Becquerel, seorang pemuda Prancis berusia 19 tahun menemukan efek yang sekarang dikenal dengan efek fotovoltaik ketika tengah berkesperimen menggunakan sel larutan elektrolisis yang dibuat dari dua elektroda. Becquerel menemukan bahwa beberapa jenis material tertentu memproduksi arus listrik dalam jumlah kecil ketika terkena cahaya. Pada tahun yang sama, usaha mereka telah berhasil membuat sebuah sel surya pertama dengan efisiensi sebesar 6%. Dari titik inilah penelitian sel surya akhirnya berkembang hingga saat ini, dengan banyak jenis dan teknologi pembuatannya.
Panel surya telah banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan bahkan dijadikan sebagai pembangkit listrik. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) telah banyak dikembangkan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dengan memanfaatkan energi – energi non fosil yang dapat diperbaharui seperti energi matahari ini, maka secara tidak langsung telah melakukan gerakan hemat energi yang nantinya diharapkan pula akan semakin banyak energi – energi alternatif yang ditemukan, sehingga kita tidak hanya bergantung pada energi yang berasal dari fosil saja yang jumlahnya tentu akan semakin menipis.


                                                      BAB III
PEMBAHASAN

3.1              PERILAKU INDUSTRI EKSPLORASI ENERGI FOSIL DI INDONESIA
Berdasarkan informasi terkait tingkat konsumsi energi di Indonesia, sektor industri di Indonesia memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap tingkat pemakaian energi terutama energi fosil di Indonesia hingga sebesar 63 % (sumber : miti.or.id). Pembagian konsumsi energi di Indonesia dapat dilihat pada gambar di bawah :




Dalam penanggulangan konsumsi energi fosil yang kian besar, pemerintah melalui Peraturan Presiden No 5 Tahun 2006 Tentang Kebijakan Energi Nasional, mencanangkan untuk memulai pemanfaatan energi baru dan terbarukan. Meskipun energi terbarukan seperti energi surya dapat dijadikan alternatif dalam penghematan konsumsi energi fosil bagi kalangan industri, didapatkan bahwa tingginya biaya produksi energi terbarukan serta ketimpangan ekonomi di Indonesia masih menjadi kendala bagi kalangan industri untuk beralih dari kebutuhan terhadap penggunaan energi fosil yang tidak dapat diperbaharui. 
Adapun kendala – kendala yang dialami dalam pemberdayaan energi surya oleh sektor industri ditinjau dari sisi ekonomi :
·         Belum adanya subsidi dari pemerintah terhadap energi terbarukan seperti halnya yang diterapkan pada minyak bumi, menyebabkan biaya pengadaan energi surya terbilang mahal.
·         Adanya persaingan dalam pemerolehan bahan baku utama sel surya yaitu silikon, memungkinkan terjadinya persaingan ekonomi oleh berbagai sektor industri di Indonesia yang bergelut dalam bidang energi
Dikarenakan masih mahalnya pengadaan perlengkapan energi surya bagi kalangan industri yang menggunakan energi fosil, pemerintah melalui SKK Migas (dahulu BP Migas yang berwenang dalam pengadaan pasokan energi migas di Indonesia) terus mengupayakan agar industri migas nasional lebih giat dalam eksploitasi migas yang masih tertimbun di bawah kerak bumi. Seperti diungkapkan oleh Andang Bachtiar, selaku Ketua Dewan Penasihat Ikatan Ahli Geologi Indonesia dalam ulasan singkat yang diberikan melalui laman migasreview.com , mengemukakan bahwa sektor industri eksplorasi migas di Indonesia masih belum menjamah pentingnya melakukan pengambilan data seismik dan studi geografis terlebih dahulu sebelum eksekusi pengeboran. Eksplorasi bukan hanya berfokus pada pengeboran tanah saja untuk mendapatkan energi fosil, namun eksplorasi dimulai dengan merencanakan studi mengenai keadaan tanah serta memprediksikan lokasi pengeboran baru yang memungkinkan untuk memunculkan minyak dan gas bumi. Selain itu, SKKMigas juga mengklaim ketidakefisiensian eksplorasi migas yang masih terjadi dengan pengukuran tidak tercapainya target produksi migas harian yang diharapkan pemerintah.
Menanggapi kritik yang disampaikan oleh SKK Migas, seperti terlansir dalam laman hukumonline.com , salah satu pihak industri pelaku eksploitasi energi migas mengungkap tentang pentingnya pengkajian sebelum pengeboran dimulai oleh industri eksplorasi dan eksploitasi minyak bumi. Respons yang diutarakan oleh pihak industri migas nasional ini menginformasikan bahwa ada ketidaktepatan paradigma pemerintah dalam pengertian ‘pengeboran’ yang sesungguhnya. Pengeboran sendiri dilakukan sesuai dengan studi kelayakan yang dilakukan terlebih dahulu, membutuhkan waktu yang cukup panjang serta biaya yang lebih besar hingga dua kali lipat mengingat perlunya penyesuaian kinerja perusahaan yang tepat serta persiapan yang matang akibat resiko bisnis yang dihadapi sangat tinggi.
Dengan adanya dua pendapat yang saling bertentangan dari pihak pemerintah dan phak industri eksplorasi migas nasional, perlu ditekankan bahwa tujuan dari pengeboran adalah memenuhi target pasokan migas harian per barelnya dengan tetap mengutamakan kelengkapan studi lapangan pengeboran. Oleh karena itu, kolaborasi dari SKKMigas dengan industri perlu diselaraskan. Perlu adanya tinjauan serta pengawasan berkala terkait eksplorasi yang diadakan oleh pihak industri sehingga diharapkan eksplorasi dapat berjalan dengan lebih efisien serta produksi migas dapat memenuhi kuota yang ditetapkan oleh pemerintah.

3.2              PERANAN PEMERINTAH DALAM EKSPLORASI ENERGI FOSIL DAN PENGEMBANGAN ENERGI ALTERNATIF
Pemerintah merupakan tokoh yang sangat berpengaruh dalam pengeksplorasian energi fosil dan konversi energi suatu negara. Berbagai keputusan, peraturan, dan undang-undang dibuat oleh pemerintah dalam rangka pengeksploitasian ataupun penghentian eksplorasi untuk berganti energi. Banyak anggapan bahwa pemerintah seakan tidak peduli terhadap lingkungan Indonesia dan terus mengeksplorasi sumber daya alam. Dan ada juga pendapat bahwa pemerintah sebenarnya sedang gencar-gencarnya mencari energi alternatif untuk Indonesia. Pendapat-pendapat tersebut tidak salah karena sejatinya pemerintah terbagi-bagi menurut tugas dan kewenangannya.
Banyak alasan mengapa pemerintah sedang menggalakkan eksplorasi energi fosil. Salah satunya adalah untuk menaikkan devisa negara. Energi fosil yang dimiliki Indonesia masih sangat banyak dan tidak semuanya sudah tereksplorasi. Akan sangat menjanjikan bila energi fosil tersebut dieksplorasi, diekspor dan hasilnya diharapkan dapat menambah devisa negara.
Pengolahan energi fosil dalam bentuk minyak mentah menjadi bahan bakar pun juga masih digalakkan dengan memangkas perizinan untuk pembuatan kilang minyak. Disebutkan dalam sebuah artikel dalam jaringnews.com, pemerintah telah memangkas lima ribu perizinan. Dengan pemangkasan perizinan ini, maka akan mempercepat proses pengilangan minyak di Indonesia.
Ditinjau dari segi etika profesi sebagai pemerintah, tindakan diatas merupakan sebuah tindakan yang benar. Indonesia mempunyai sumber daya alam yang masih bnyak dan belum banyak diolah. Bila sumber daya alam ini dikelola akan menghasilkan devisa negara. Selain devisa negara, kebutuhan energi masyarakat Indonesia sendiri dapat dicukupi. Sehingga negara tidak perlu meng-impor bahan bakar minyak.
Namun dalam pelaksanaannya pasti ada ditemukan ketidaksesuaian bahkan penyalahgunaan terhadap etika profesi. Karena pada faktanya, seperti yang ditulis dalam laman web http://energitoday.com/ , tujuan pengeksplorasian untuk menigkatkan devisa tidak dapat berdampak banyak bagi masyarakat.  Impor bahan bakar minyak juga masih akan terus dilakukan.
Tinjauan Etika Profesi dalam hal pemanfaatan sumber daya alam, tindakan pemerintah ini kurang tepat. Dengan adanya eksplorasi dan kilang minyak yang berkepanjangan akan mengganggu stabilitas lingkungan dan berkontribusi terhadap pemanasan global. Lingkungan akan rusak, sumber daya yang begitu melimpah pun bisa habis karena eksploitasi energi fosil tidak dapat diperbaharui.
Di sisi lain, pemerintah ESDM sendiri kini juga sedang mencari energi alternatif yang dapat menggantikan energi fosil. Dengan menggunakan prinsip 3R seperti yang dilansir dalam laman webnya. Prinsip tersebut yaitu Reduce, Replace dan Restrict. Dalam halaman webnya, Kementrian energi dan sumber daya mineral menjelaskan prinsip 3R tersebut. Berikut merupakan kutipannya.
Reduce yang dimaksud adalah mengurangi konsumsi energi melalui konservasi dan efisiensi energi. Sedangkan yang dimaksud dengan Replace adalah melakukan diversifikasi energi dari yang tergantung pada energi tidak terbarukan menjadi penggunaan energi baru terbarukan. Adapun Restrict adalah membatasi produksi/ eksploitasi energi fosil untuk generasi ke depan hingga tercapai harga keekonomian atau manfaat yang lebih baik misalnya pembatasan ekspor batubara”.

Pemerintah ESDM juga sedang melirik energi surya sebagai energi alternatif. Menurut salah satu artikel dalam energitoday.com, Pemerintah sudah menerapkan energi surya dalam bentuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya(PLTS) di Jawa Barat. Karena biaya pengadaan yang besar pun pemerintah juga mengajak pihak swasta untuk mengembangkan PLTS ini. Antaranews.com mencatat, pemerintah juga telah menyiapkan dana sebesar 400 milyar rupiah untuk pembangunan PLTS di berbagai daerah.
Ditinjau dari segi etika profesi dan lingkungan, tindakan ini sudah benar. Tindakan dan dana yang dianggarkan memang sudah sesuai dengan tugas yang seharusnya mereka kerjakan. Selain itu, dilihat darisegi lingkungan energi surya merupakan enerigi yang ramah lingkungan.
Bila dilihat secara Etika Profesi, semua yang telah dibuat pemerintah adalah tepat bagi masyarakat. Namun, yang membuat hal tersebut menjadi kurang tepat adalah saat hal tersebut tidak menghasilkan dampak yang positif dan nyaman menurut respons masyarakat.



3.3              PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP ENERGI FOSIL
Sumber energi merupakan sesuatu yang memiliki kemampuan untuk menyimpan atau menghasilkan energi. Ada banyak macam jenis energi serta sumber energi yang ada di dunia ini. Masing-masing dari sumber tersebut memiliki kapasitas yang berbeda-beda. Sementara, jenis energi yang saat ini banyak dimanfaatkan oleh manusia adalah energi yang berasal dari fosil yang biasa disebut sebagai minyak bumi. Minyak bumi diolah menjadi banyak jenis bahan bakar minyak mulai dari avtur, bensin, solar, hingga minyak tanah.
Jenis energi yang berasal dari fosil tersebut merupakan energi yang tidak bisa untuk diperbaharui. Karena hal tersebut, maka dimungkinkan terjadi kelangkaan dari energi tersebut di  masa depan atau bahkan mungkin juga energi yang menjadi penopang utama bagi kehidupan sehari-hari bagi manusia akan habis. Saat ini, hampir setiap mesin yang ada dalam kehidupan manusia menggunakan energi yang bersumber dari minyak bumi. Jika manusia tidak segera menggunakan energi alternatif sebagai pengganti saat cadangan minyak bumi yang ada telah habis, maka manusia akan menjadi kesulitan karena terlalu bergantung pada sumber energi tersebut.
Meskipun saat ini penggunaan energi alternatif sudah mulai dikembangkan namun sepertinya manusia masih sulit atau enggan untuk menjadikan energi alternatif tersebut sebagai sumber energi utama bagi kehidupannya. Entah mengapa energi alternatif masih kurang diminati oeh banyak orang saat ini, padahal banyak jenis energi alternatif yang diketahui lebih ramah terhadap lingkungan dari pada menggunakan energi yang bersifat konvensional seperti yang dipakai saat ini.
Energi yang berasal dari fosil memang merupakan energi utama pada saat ini, namun tanpa kita sadari energi tersebut juga memiliki dampak yang memberikan pengaruh buruk bagi kondisi alamatau lingkungan tempat tinggal kita. Beberapa bahaya dari energi adalah meningkatkan konsentrasi gas CO2 beserta gas buang lainnya yang ada dalam udara, semua gas tersebut akan memberikan pengaruh buruk yang akan mempertinggi risiko dari rumah kaca.
Jika terjadi hujan kumpulan dari gas buang yang telah terkonsentrasi di udara tersebut bisa menyebabkan terjadinya hujan asam. Hujan ini memberikan pengaruh buruk bagi tanah dan perairan yang adadi bumi. Hujan asam tersebut sangat merugikan pada bidang pertanian dan kehutanan. Selain itu hujan asam juga membuat bangunan lebih cepat menjadi korosif.
Dampak yang lain dari penggunaan energi fosil adalah terjadinya kerusakan lingkungan pada area sekitar pengeboran. Kebanyakan pengeboran tersebut adalah lepas pantai sehingga limbah yang dihasilkan kemungkinan besar akan langsung dibuang kelautan sehingga mengganggu keseimbangan dari ekosistem yang ada di lautan.
Banyak dari mikroorganisme dan hewan-hewan yang akan mati atau tersendat rantai kehidupannya karena adanya pencemaran. Jika pertambangan yang dilakukan tidak lepas pantai, dampaknya juga akan sangat buruk pada kondisi tanah yang ada pada sekitar lingkungan penambangan.
Tanah yang ada di sekitar tempat itu akan kehilangan tingkat kesuburannya sehingga tidak akan dapat ditanami dalam kurun waktu tertentu. Di samping kelemahan tersebut masih ada lagi kelemahan lain yang bersifat langsun maupun tidak langsung yang diakibatkan oleh penggunaan maupun penciptaan energi yang berasal dari fosil.

3.4              PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP ENERGI ALTERNATIF
Kebutuhan energi-energi alternatif di Indonesia sangatlah dibutuhkan. Apalagi pengguanaan energi alternatif dari sinar matahari yang energinya tak akan pernah habis. Dari sini dapat dilihat bahwa potensi untuk menghemat biaya keuangan Indonesia semakin tertolong karena energi matahari ini bisa kita dapat secara gratis.
Pernah diumumkan bahwa di DKI Jakarta bahwa konsumsi listrik terbesar di Jakarta berasal dari mall dan apartemen serta listrik rumah tangga. Hal itu menyebabkan perbincangan-perbincangan yang lumayan heboh, yaitu “Kenapa di tempat-tempat tersebut tidak menggunakan energi alternatif energi surya saja ?, dan dari penggunaan energi surya kita dapat menghemat jutaan kilo PLN, puluhan ribu barel solar, dan 20% dari 40 juta kilo liter BBM subsidi, dan uang subsidi bisa disumbangkan untuk pembangunan kota kecil dan pendidikan rakyat tidak mampu”. Dari perbincangan tersebut memang sudah jelas bahwa penggunaan energi surya akan memberikan manfaat bagi negara Indonesia, terutama pada aspek ekonomi dan juga penghematan sumber daya alam lainnya seperti batu bara, minyak tanah, bensin, dll. Namun masyarakat Indonesia masih banyak yang bergantung pada energi fosil yang tanpa mereka sadari bahwa lama-kelamaan akan habis karena energi fosil adalah energi yang bersifat non renewable resources. Energi fosil yang dirasa sudah membuat masyarakat masuk kedalam zona nyaman, membuat mereka seenaknya memanfaatkan energi listrik misalnya, tanpa mereka sadari akan kemungkinan terjadinya krisis energi di masa yang akan datang. Dari sini masyarakat Indonesia sudah bisa dikatakan masyarakat yang boros, contohnya dengan menyalakan lampu padahal tidak digunakan, menyalakan AC pada suhu minimal, dan juga memasang jumlah lampu dalam jumlah besar yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Selain masyarakat memicu boros akan energi, mereka juga memicu untuk pemborosan keuangan negara, karena energi fosil (terutama BBM) yang digunakan untuk energi listrik misalnya juga menghabiskan biaya yang cukup mahal dalam pemenuhan kebutuhan. Masyarakat seperti itu kemungkinan besar masih kurangnya pemahaman tentang pentingnya sikap hemat energi dan kebiasan menggunakan energi.
Oleh karena itu, pemerintah melakukan kegiatan hemat energi dengan bantuan beberapa industri untuk mematikan sumber energi listrik. Namun hal tersebut membuat masyarakat tidak nyaman dan semakin menentang tindakan pemerintah. Karena dampak yang ditumbulkan adalah terhambatnya operasi medis, aktifitas di jalan rasa macet, adanya pembatasan jam tayang TV, dan juga siaran radio. Akhirnya pemerintah mengupayakan diadakannya energi alternatif yang terbarukan meskipun biaya untuk memproduksinya dikatakan mahal.
Namun setelah diterapkannya energi alternatif seperti energi surya, kebanyakan masyarakat berubah fikiran dan menyambut dengan senang hati. Karena energi surya banyak membantu pekerjaan dan aktifitas masyarakat. Seperti contoh diciptakannya Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid (PLTH) yang terbentuk dari gabungan energi angin dan energi surya pada Juni 2010 di pantai Pandansimo , Bantul , DIY. PLTH ini dirasa masyarakat dapat bekerja dengan baik dan juga lebih ramah lingkungan. Aktifitas masyarakat pun seperti pertanian, perikanan, dan pariwisata dapat terbantu. PLTH ini adalah termasuk energi surya yang ramah lingkungan dan dirasanya nyaman oleh masyarakat, oleh karena itu banyak masnyarakat khususnya di daerah Bantul, DIY memberikan tanggapan yang positif.




BAB IV
PENUTUP

4.1              KESIMPULAN
Ada banyak pendapat tentang energi alternatif sebagai pengganti energi fosil. Ada kalangan yang menerima dengan tangan terbuka, namun  juga ada yang masih keberatan. Bahkan pemerintah pun  masih belum bisa menyatukan pendapat tentang hal tersebut. Mereka berpendapat dan akan menilai mengenai baik buruknya eksplorasi energi fosil maupun konversi energi alternatif, dalam hal ini, energi surya, sesuai dengan jabatan, kewenangan, kepentingan, dan sudut pandang masing-masing.
Energi nasional (energi fosil) yang saat ini sendang kita nikmati bersama sebenarnya mengancam  krisis alam kita, bahkan juga mengancam  keadaan ekonomi negara Indonesia. Diperlukan tingkat kesadaran yang tinggi untuk menanggapi masalah ini, karena tanpa kita sadari, semakin lama akan semakin habis sumber daya alam di dunia ini hanya untuk pemenuhan kebutuhan manusia.
Oleh karena itu, dengan adanya sumber energi alternatif, energi surya khususnya, energi yang bersifat renewable resources,akan membantu  percepatan berkurangnya sumber daya alam dan juga perekonomian negara terutama BBM. Pengadaan sumber energi surya sebaiknya dilakukan oleh seorang yang benar-benar mengerti(ahli) berkolaborasi dengan seseorang yang mampu mendanai pengadaan serta pemerintah yang turut mendanai dan memberikan izin. Hal ini dimaksudkan dengan adanya pelatihan dalam pembuatan maupun pengembangan energi alternatif oleh pakarnya.

4.2              SARAN
Berikut merupakan saran penulis kepada
1.      Pembaca
Bagi pembaca penulis menyarankan untuk melihat fakta yang ada dari kedua sisinya sebelum memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah. 
2.      Penulis selanjutnya

Bagi penulis selanjutnya penulis menyarankan untuk mengulas dan mengupas tema ini lebih dalam serta dari berbagai sisi.



File lengkapnya bisa anda download disini.

Penyebab Dan Dampak Lumpur Lapindo Di Porong Sidoarjo

PENYEBAB DAN DAMPAK LUMPUR LAPINDO DI PORONG SIDOARJO JAWA TIMUR





Dosen Pengampu :
Annas Vijaya, MTI.
Dibuat Oleh :
Kharisma Dharma Pertiwi – 321210007
Program Studi :
Sistem Informasi
Fakultas :
Sains dan Teknologi




Universitas Ma Chung Malang
Tahun ajaran 2013-2014



KATA PENGANTAR
          Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan kuasa-Nya, kami Program Studi Sistem Informasi mata kuliah Etika Profesi dapat menyelesaikan tugas makalah ilmiah dengan judul “Penyebab dan Dampak Lumpur Lapindo” yang sesuai dengan permintaan dosen pengampu mata kuliah ini.
            Makalah ini berisi tentang beberapa penyebab semburan lumpur lapindo pada 29 Mei 2006 di Porong Sidoarjo Jawa Timur dan beberapa dampak yang diakibatkan dari adanya semburan tersebut. Dan juga disertai dengan beberapa upaya untuk menanggulanginya.
            Kami menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan dalam isi informasi yang disediakan, oleh karena itu kamu membutuhkan kritik dan saran untuk evaluasi dan perbaikan kami.
            Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang ter,ibat dalam pembuatan makalah ini.



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
BAB I. PENDAHULUAN 4
1.    Latar Belakang 4
2.     Identifikasi Masalah 4
3.     Pembatasan Masalah 4
4.    Perumusan Masalah 4
BAB II. PEMBAHASAN 5
1.    Penyebab Luapan Lumpur Lapindo 5
2.     Dampak Luapan Lumpur Lapindo 6
3.     Upaya Penanggulangan Luapan Lumpur Lapindo 7
BAB III. PENUTUP 8
Kesimpulan 8
DAFTAR PUSTAKA 9



BAB.I PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
            Lingkungan merupakan tempat di mana makhuk hidup tinggal, bersosial, bertingkah laku, dan beradaptasi. Pengaruh lingkungan sangatlah besar terhadap ekosistem disekitarnya, oleh karena itu, lingkungan harus selalu dijaga.
            Manusia adalah makhul yang mempunyai daya pikir dan daya nalar yang tinggi dibandingkan makhluk lainnya. Oleh karena itu manusia disebut makhluk hidup yang paling aktif. Salah satunya yaitu aktif dalam mengelolah dan mengubah ekosistem yang ada di lingkungannya. Sebagian besar kebutuhan manusia diperoleh dari lingkungan, oleh karena itu manusia harus menjaga lingkungan.
            Hubungan manusia dengan lingkungan tidak dapat dipisahkan, karena manusia masih memerlukan alam, alam pun juga memerlukan manusia untuk merawatnya dan memliharanya. Namun, kadang campur tangan manusia menimbulkan beberapa dampak yang kurang baik bagi lingkungannya. Seperti yang terjadi di Porong Sidoarjo, yaitu meluapnya lumpur panas di kawasan penduduk pada tanggal 29 Mei 2006. Lumpur yang bercampur dengan gas metana yaitu gas beracun telah meresahkan warga, karena lumpur ini telah menenggelamkan desa-desa di kawasan tersebut. Dan tidak menutup kemungkinan akan menenggelamkan lebih banyak lagi desa-desa yang lain.


2. IDENTIFIKASI MASALAH
        Permasalahan tentang luapan lumpur lapindo adalah masalah yang sudah lama diketahui oleh masyarakat. Masalah ini perlu ada cukup menggemparkan orang banyak di Indonesia. Oleh karena itu, akan dibahas beberapa hal mengenai luapan lumpur lapindo tersebut. Pembahasan akan lebih banyak menyangkut tentang penyebab luapan lumpur lapindo yang melibatkan PT Lapindo Brantas serta dampak-dampak yang ditimbulkan.

3. PEMBATASA MASALAH
             Batasan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini hanya tentang perkiraan penyebab terjadinya luapan lumpur lapindo oleh PT Lapindo Brantas. Dan juga beberapa dampak yang dialami oleh warga korban dan sekitar serta upaya penanggulannya.

4. PERUMUSAN MASALAH
1.      Apa yang menyebabkan luapan lumpur lapindo di Porong Sidiarjo ?
2.      Bagaimana sikap pihak-pihak terkait atas terjadinya luapan lumpur lapindo di Porong Sidoarjo ?
3.      Bagaimana kondisi pasca terjadinya luapan lumpur lapindo ?


BAB. II PEMBAHASAN
1.      PENYEBAB LUAPAN LUMPUR LAPINDO
Sebenarnya ada beberapa hal yang diduga sebagai penyebab terjadinya luapan lumpur lapindo, seperti kaitannya dengan gempa Yogyakarta yang berlangsungpada hari yang sama, aspek politik yaitu eksplorasi migas oleh pemerintah,dan  aspek ekonomis yaitu untuk menghemat dana pengeluaran, maka PT Lapindo sengaja tidak memask casing pada sumur BPJ-1.
Salah satu dari ketiga perkiraan yang sudah umum diketahui banyak orang tentang penyebab meluapnya lumpur lapindo di Porong Sidoarjo 29 Mei 2006 lalu adalah PT Lapindo Brantas yang waktu itu sedang melakukan kegiatan di dekat lokasi semburan.
Kegiatan yang dilakukan oleh PT Lapindo Brantas waktu iu adalah pengeboran sumur Banjar Panji-1 (BPJ-1) pada awal maret 2006, kegiatan tersebut bekerjasama dengan perusahaan kontraktor pengeboran yaitu PT Medici Citran Nusantara.
      Dugaan atas meluapnya lumpur tersebut kepada PT Lapindo Brantas adalah kurang telitinya PT Lapindo dalam melakukan pengeboran sumur dan terlalu menyepelekan. Dua hal tersebut sudah tampak ketika rancangan pengeboran akhirnya tidak sesuai dengan yang ada dilapangan. Rancangan pengeboran adalah sumur akan dibor dengan kedalaman 8500 kaki (2590 meter) untuk bisa mencapai batu gamping. Lalu sumur tersebut dipasang casing  yang bervariasi sesuai dengan kedalaman sebelum mencapai batu gamping.
      Awalnya, PT Lapindo sudah memasang casing 30 inchi pada kedalaman 150 kaki, 20 inchi pada 1195 kaki, 16 inchi pada 2385 kaki dan 13-3/8 inchi pada 3580 kaki. Namun setelah PT Lapindo mengebor lebih dalam lagi, mereka lupa memasang casing. Mereka berencana akan memasang casing lagi setelah mencapai/menyentuh titik batu gamping. Selama pengeboran tersebut, lumpur yang bertekanan tinggi sudah mulai menerobos, akan tetapi PT Lapindo masih bisa mengatasi dengan pompa lumpur dari PT Medici.
      Dan setelah kedalam 9297 kaki, akhirnya mata bor menyentuh batu gamping. PT Lapindo mengira target sudah tercapai, namun sebenarnya mereka hanya menyentuh titik batu gamping saja. Titik batu gamping itu banyak lubang sehingga mengakibatkan lumpur yang digunakan untuk melawan lumpur dari bawah sudah habis, lalu PT Lapindo berusaha menarik bor, tetapi gagal, akhirnya bor dipotong dan operasi pengeboran dihentikan serta perangkap BOP (Blow Out Proventer) ditutup. Namun fluida yang bertekanan tinggi sudah terlanjur naik ke atas sehingga fluida tersebut harus mencari jalan lain untuk bisa keluar. Itu lah yang menyebabkan penyemburan tidak hanya terjadi di sekitar sumur melainkan di beberapa tempat. Oleh karena itu terjadilah semburan lumpur lapindo.
      Berikut ada contoh gambar semburan yang terjadi dibawah tanah disekitar sumur BPJ-1.




2.      DAMPAK LUAPAN LUMPUR LAPINDO
Akibat/dampak yang ditimbulkan dari semburan lumpur lapindo sangatlah banyak, terutama bagi warga sekitar. Dampak yang ditimbulkan menyangkut beberapa aspek, seperti dampak sosial dan pencemaran lingkungan.
Ada beberapa dampak sosial yang terjadi akibat luapan lumpur lapindo, misal dampak terhadap perekonomian di Jawa Timur, dampak kesehatan, dan dampak pendidikan.
Dampak pada perekonomian mengakibatkan PT Lapindo melalui PT Minarak Lapindo Jaya mengeluarkan dana untuk mengganti tanah masyarakat dan membuat tanggul sebesar 6 Triliun Rupiah. Tinggi genangan lumpur yang mencapai 6 meter di pemukiman warga sudah membuat warga rugi atas rumah/tempat tinggal, lahan pertaniannya dan perkebunan yang rusak. Pabrik-pabrik pun rusak tidak bisa difungsikan untuk proses produksi, sarana dan prasarana (jaringan telepon dan listrik) juga tidak dapat berfungsi, serat terhambatnya ruas jalan tol Malang-Surabaya yang mengakibatkan aktivitas produksi dari Mojokerto dan Pasuruan yang selama ini menjadi salah satu kawasan industri utama di Jawa Timur.
Gas Metana yang beracun tersebut banyak menyebabkan penyakit bagi warga yang menghirupnya. Tercatat dampak kesehatan di Puskesmas Porong menunjukkan banyaknya penderita infeksi saluran pernafasan yang semakin meningkat sejak 2006 lalu hingga mencapai 52.543 orang di 2009. Dan juga penderita gastritis melonjak hingga 22.189 orang di 2009 yang sebelumnya tercatat 7.416 di 2005.
Untuk masalah pendidikan, ada 33 sekolah tenggelam dalam lumpur dan sampai Juni 2012 belum ada sekolah yang dibangun sebagi pengganti. Akhirnya pendidikan yang harusnya dirasakan oleh pelajar harus terbengkelai.
Dampak berikutnya adalah pencemaran lingkungan, dampak ini sebenarnya sudah berhubungan dengan dampak-dampak yang lain, dampak kesehatan misalnya. Dari lingkungan yang lama setelah semburan lumpur tak tertanggulangi akan menimbulkan pencemaran yang luar biasa. Pencemaran ini sungguh merugikan sekali, karena lingkungan yang sangat berdampak dengan aktivitas manusia harus punah dan tidak bisa digunakan lagi.
Dampak-dampak yang timbul telah lama dimintai pertanggungjawaban oleh warga. Namun warga belum merasakan ganti rugi oleh PT Lapindo serta tindakan pemerintah atas meluapnya lumpur panas tersebut. Akhirnya perpecahan mulai muncul antara pemerintah, PT Lapindo Brantas dan warga korban lumpur lapindo.

3.      UPAYA PENANGGULANGAN LUAPAN LUMPUR PALINDO
Upaya yang dilakukan untuk menanggulangi luapan lumpur lapindo adalah dengan membangun tanggul desekitar luapan lumpur panas itu. Namun tanggul yang dibangun bisa sewaktu-waktu jebol karena lumpur setiap hari terus meluap naik. Hingga akhirnya direncanakan akan membangun beberapa waduk untuk membendung lumpur tersebut. Namun rencana tersebut batal tanpa sebab yang jelas.
Ada beberapa pihak yang mengatakan bahwa luapan lumpur bisa diatasi dengan melakukan beberapa skenario, namun hingga 2009 luapan tidak bisa dihentikan yang artinya luapan ini adalah fenomena alam yang akan susah ditanggulangi tanpa ijin Tuhan.
Beberapa skenario yang dikatakan diatas antara lain :
1.      Menggunakan suatu sistem yang disebut Snubbing Unit yaitu sistem peralatan bertenaga hidraulik yang umumnya digunakan untuk pekerjaan di dalam sumur yang sudah ada. Rencananya Snubbing Unit  digunakan untuk mencapai rangkaian mata bor yang tertinggal didalam sumur, jika mata bor ditemukan maka bor tersebut akan didorong masuk kedalam sumur lalu dasar sumur akan dututp dengan semen dan lumpur berat. Tetapi rencana ini gagal karena bor gagal didorong masuk kedalam sumur.
2.      Rencana pengeboran miring menghindari mata bor yang tertinggal.Namun rencana ini juga gagal hingga akhirnya sumur BPJ-1 ditutup secara permanen.
3.      Pembuatan sumur-sumur baru di sekitar sumur BPJ-1. Ada tiga sumur yang dibangun, yaitu sumur pertama dibangun sekitar 500 meter barat daya sumur BPJ-1, sumur kedua dibangun sekitar 500 meter barat laut sumur BPJ-1, dan sumur ketiga dibangun sekitar utara timur laut dari sumur BPJ-1. Sumur-sumur tersebut digunakan untuk mengepung retakan-retakan tempat keluarnya lumpur. Rencana ini gagal karena bermasalah dengan biaya yang begitu mahal dan memakan waktu .



BAB. III PENUTUP
KESIMPULAN
Kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia seperti mineral, minyak, batu bara, dan gas juga dapat memberikan dampak yang berbahaya bagi Indonesia. Lingkungan yang ada disekitar kita hendaklah dijaga dan dirawat sebaik mungkin. Karena dengan lingkungan yang nyaman tentu kehidupan kita sebagai manusia akan terjamin. Manusia bertanggungjawab atas lestarinya alam semesta, karena ketergantungan kita dengan apa yang ada di alam ini.
Luapan Lumpur Lapindo yang sampai saat ini sudah ±8 tahun sejak 29 Mei 2006 menunjukkan bahwa manusia telah lalai dan terlalu meremehkan atas alam. Akibat luapan tersebut manusia juga yang rugi. Banyak dampak yang ditimbulkan seperti dampak sosial yang meliputi perekonomian di Jawa Timur, kesehatan, dan pendidikan serta pencemaran lingkungan.
Namun dampak-dampak yang timbul sampai saat ini juga tak kunjung terselesaikan, bahkan luapan lumpur semakin hari semakin bertambah.



DAFTAR PUSTAKA
Anon, 2012, Kajian Masalah Lingkungan Lumpur Lapindo, viewed 31 August 2012, <http://muhamadherliansyah.blogspot.com/2012/06/kajian-masalah-lingkungan-lumpur.html>
Anon, 2012, Wikipedia, viewed 31 August 2013, <http://id.wikipedia.org/wiki/Banjir_lumpur_panas_Sidoarjo>



Anda bisa download file PDFnya disini